Ads 468x60px

Showing posts with label Cerita sex. Show all posts
Showing posts with label Cerita sex. Show all posts

PENISKU DIMAININ TANTE SAAT AKU TERTIDUR



Penisku dimainin Tante Verra saat aku tidur – Kali ini aku mau menceritakan pengalaman nyata yang aku alami saat aku nginap dirumah tante Verra .

Perkenalkan namaku Aris, umurku saat ini 23 tahun, aku kuliah disuatu universitas terkenal dikotaku. Aku sendiri memilki penampilan yang kurang lebih bisa menarik perhatian kaum wanita karena perawakanku yang atletis dan wajah ganteng yang menghiasi tubuhku.

Dalam hubungan sex tak perlu ditanyakan lagi, aku sudah mendapat banyak pengalaman dari banyak wanita, karena aku memulai berhubungan Sex sejak SMA sampai sekarang. Namun kali ini aku tak menyangka kisahku ini akan terjadi, karena persetubuhan ini aku lakukan dengan tanteku sendiri yang dimana adalah istri om ku yang adik dari ayahku. Namun mau bagaimana lagi,jika kucing dikasih ikan asin ya mana mau nolak,hehe..

Suatu pagi saat aku masih tidur, telpon HP ku berbunyi dan aku yang masih dengan mata tertutup mengangkat HP ku, ternyata adalah Om Yudi yang menelponku. “Ris, kamu beberapa hari ini sibuk gak??” tanya om Yudi. “Kayaknya Enggak om, emang kenapa om??” tanyaku balik.


“Om mau minta tolong niiih, bisa gak???” tanya om Yudi. “Eeeemmm….Minta tolong apa om?? Kalau aku bisa pasti aku bantu om” jawabku. “Om minta kamu menginap dirumah om karena om mau keluar kota selama beberapa hari, kamu temenin Tante Vera dan Tia dan Lia ya Ris, bisa gak??” taya om Yudi.

“Eeeemmm….Bisa deeh om, aku kerumah om kapan, nanti apa sekarang om??” tanyaku. “Sekarang aja Ris, karena om sebentar lagi mau berangkat dan om juga sudah ngomong sama tantemu kok, kalau kamu yang akan menemaninya” jawab om Yudi.

“Okkee…Deeeh om, aku mandi dulu, nanti aku terus kerumah om” jawabku agen bandarq “Makasih ya Ris, kamu memang keponakanku yang paling baik, nanti jika om sudah berangkat kamu tinggal masuk aja ya Ris” ucap om Yudi. “Iyha om” jawabku singkat.


Setelah menutup telpon dengan mata yang masih berat, aku pun bergegas menuju kamar mandi untuk mandi. Didalam kamar mandi aku sempat membayangkan yang tidak-tidak, aku membayangkan tubuh bahenol tante Vera,

kubayangkan pantatnya yang semok aku remas-remas, kujilati memek tante Vera sampai tante Vera ngecrot, penisku dikulum tante Vera, membuat penisku menegang dan Aaarrgghhh akhirnya aku membasahi tubuhku dengan air, hingga bayanganku tentang tante Vera hilang dengan seketika.

Tak lama aku selesai mandi, dan aku pun bergegas ganti baju dan langsung menuju rumah om Yudi. Sekitar setengah jam perjalanan, akhirnya aku sampai dirumah om Yudi. Dan ternyata om yudi sudah berangkat lalu aku disambut oleh tante Vera.

Pemandangan indah seketika pun aku dapatkan, baju ketat dan super seksi menghiasi tubuh tante Vera sehingga bentuk lekuk-lekuk tubuh tante Vera menjadi terlihat, dan bahkan garis-garis CD tante Vera kelihatan karena roknya yang sangat ketat. Sejenak aku menelan ludah sebelum akhirnya tante Vera membuyarkan pemandanganku itu.

“Ris tante minta tolong kamu antar Tia dan Lia kesekolah yaaa” pinta tante Vera. “Okkee deeh tante” jawabku singkat. Lalu aku mengajak kedua anak tante Vera yang masih kecil kemobil, dan aku pun mengantarkannya kesekolah. Diperjalanan aku mengantar Tia dan Lia, kembali aku teringat kemolekan tubuh tante yang tadi aku lihat.

Aku tak kuasa menahan nafsuku hingga dalam perjalanan batang Penisku menengang sehingga kelihatan dari luar celanaku karena penisku yang lumayan besar. Untungnya aku mengantarkan anaknya tante Vera, jika yang kuantarkan adalah tante Vera bisa-bisa aku langsung menubruknya “pikiran kotor itu yang terus mengganguku selama dalam perjalanan”.


Selesai sudah tugasku mengantar untuk hari ini. Kupacu mobil ke rumah tante Vera. Setelah parkir mobil aku langsung menuju meja makan, lalu mengambil porsi tukang dan melahapnya. Tante Vera masih mandi, terdengar suara guyuran air agak keras. Lalu hening agak lama, setelah lebih kurang lima menit tidak terdengar gemericik air aku mulai curiga dan aku hentikan makanku. Setelah menaruh piring di dapur.

Aku menuju ke pintu kamar mandi, sasaranku adalah lubang kunci yang memang sudah tidak ada kuncinya. Aku matikan lampu ruang tempatku berdiri, lalu aku mulai mendekatkan mataku ke lubang kunci. Di depanku terpampang pemandangan alam yang indah sekali, tubuh mulus dan putih tante Vera tanpa ada sehelai benang yang menutupi terlihat agak mengkilat akibat efek cahaya yang mengenai air di kulitnya.

Ternyata tante Vera sedang masturbasi, tangan kanannya dengan lembut digosok-gosokkan ke vaginanya. Sedangkan tangan kiri mengelus-elus payudaranya bergantian kiri dan kanan. Terdengar suara desahan lirih, “hmhmhmhmmmm, ohh, arhh”.

Kulihat tanteku melentingkan tubuhnya ke belakang, sambil tangan kanannya semakin kencang ditancapkan ke vagina. Rupanya tante Vera ini sudah mencapai orgasmenya. Lalu dia berbalik dan mengguyurkan air ke tubuhnya.

Aku langsung pergi ke ruang keluarga dan menyalakan televisi. Aku tepis pikiran-pikiran porno di otakku, tapi tidak bisa. Tubuh molek tante Vera, membuatku tergila-gila. Aku jadi membayangkan tante Vera berhubungan badan denganku. “Lho Ris, kamu lagi apa tuh kok tanganmu dimasukkan celana gitu. Hayo kamu lagi ngebayangin siapa? Nanti aku bilang ke ibu kamu lho.” Tiba-tiba suara tante Vera mengagetkan aku.

“Kamu ini pagi-pagi sudah begitu. Mbok ya nanti malam saja, kan enak ada lawannya.” Celetuk tante Vera sambil masuk kamar. Aku agak kaget juga dia ngomong seperti itu. Tapi aku menganggap itu cuma sekedar guyonan.

Setelah tante Vera berangkat kerja, aku sendirian di rumahnya yang sepi ini. Karena masih ngantuk aku ganti celanaku dengan sarung lalu masuk kamar tante dan langsung tidur. “hmhmhmhmmmm.. geli ah” Aku terbangun dan terkejut, karena tante Vera sudah berbaring disebelahku sambil tangannya memegang Penis dari luar sarung.

“Waduh, maafin tante ya. Tante bikin kamu terbangun.” Kata tante sambil dengan pelan melepaskan pegangannya yang telah membuat Penis menegang 90%. “Tante minta ijin ke atasan untuk tidak masuk hari ini dan besok”, dengan alasan sakit.

Setelah ambil obat dari apotik, tante pulang. Begitu alasan tante ketika aku tanya kenapa dia tidak masuk kerja. “Waktu tante masuk kamar, tante lihat kamu lagi tidur di kasur tante, dan sarung kamu tersingkap sehingga CD kamu terlihat.

Tante jadi terangsang dan pingin pegang punya kamu. Hmm, gedhe juga ya Penis mu” Tante terus saja nyerocos untuk menjelaskan kelakuannya. “Sudahlah tante, gak pa pa kok. Lagian Aris tahu kok kalau tante tadi pagi masturbasi di kamar mandi” celetukku sekenanya.

“Lho, jadi kamu..” Tante kaget dengan mimik setengah marah. “Iya, tadi Aris ngintip tante mandi. Maaf ya. Tante gak marah kan?” agak takut juga aku kalau dia marah. Tante diam saja dan suasana jadi hening selama lebih kurang sepuluh menit.

Sepertinya ada gejolak di hati tante. Lalu tante bangkit dan membuka lemari pakaian, dengan tiba-tiba dia melepas blaser dan mengurai rambutnya. Diikuti dengan lepasnya baju tipis putih, sehingga sekarang terpampang tubuh tante yang toples sedang membelakangiku. Aku tetap terpaku di tempat tidur, sambil memegang tonjolan Penis di sarungku. Bra warna hitam juga terlepas, lalu tante berbalik menghadap aku.

Aku jadi salah tingkah. “Aku tahu kamu sudah lama pingin menyentuh ini..” dengan lembut tante berkata sambil memegang kedua bukit kembarnya. “Emm.., nggak kok tante. Maafin Aris ya.” aku semakin salah tingkah.

Ngentot dengan tante ku saat suaminya ke luar kota


Herman, nanti kamu ambil uang di ruangan saya, bawa saja dulu semuanya, nanti kamu nego hutang orang tua Fenny, kalau tak cukup nanti hubungi saya lagi…”, Herman menelponku agar aku mengurus hutang-hutang orang tua Fenny.

Herman bilang, ayah Fenny menjual ibunya ke Bang Solihin untuk menebus hutang-hutang mereka. Bang Solihin terkenal sebagai kepala preman di daerah ini, ia juga yang membacking prostitusi yang ada di belakang komplek rumah Fenny. 


Aku kemudian mengajak Mamat dan Syamsul, karena mereka pernah di bawah pimpinan Bang Solihin.Uang di meja Herman ternyata sekitar delapan puluh dua juta Rupiah, tumben sekali Herman menyimpan dana tunai seperti ini. “Jam segini dia pasti ada di tempat prostitusi itu”, kata Mamat. “Orangnya agak susah diajak nego, mungkin susah kita mau lepaskan jeratan hutang-hutang keluarga Fenny”, sambung Syamsul selagi kami dalam perjalanan menuju ke arah sana.


Aku belum pernah memasuki daerah ini, dari luar cuma nampak seperti komplek perumahan biasa, makin ke dalam malah semakin sepi, kiri kanan hanya ada pohon seperti masuk ke dalam hutan, jalan pun rusak parah.

Namun sampai ke dalam ada plang tertulis ‘Selamat datang di 1001 Malam’.

Masuk dari gerbang ini sudah terlihat ramai, kiri kanan penuh mobil dan motor yang parkir, kemudian ada meja dan kursi tempat nongkrong orang-orang di sini. Ku lirik kanan dan kiri, banyak sekali perek-perek yang memandangi kami, bahkan banyak juga yang masih ABG.


Ada beberapa orang berpakaian loreng, entah mereka adalah anggota brimob yang membacking atau hanya sekedar mengecek atau bermain-main di sini. Para pria hidung belangpun menatapi kami, wajar, mungkin bagi mereka kami adalah orang baru di sana, karena Mamat dan Syamsul pun sudah lama tidak mengikuti Bang Solihin.

Di dalam ada beberapa gedung, dan gedung yang paling besar itu adalah tempat di mana Bang Solihin nongkrong. Kami pun turun coba berjalan ke arah pintu yang dijaga beberapa orang berbadan kekar. “Mat, lama tak tengok muka busuk kau…”, teriak salah satu pria yang berjaga itu, ia sepertinya kenal dekat dengan Mamat. Ternyata namanya Deni, teman Mamat juga selagi dulu di bawah pimpinan Bang Solihin.

Setelah berkenalan, kamipun menjelaskan maksud kedatangan kami.

“Hmm, kayaknya gue pernah dengar kasus ini…”, jelas Deni. “Ibunya Fenny sekarang bekerja di sini sebagai wanita penghibur, namanya Yully…”. Cukup tragis terdengar, apalagi mendengar kelanjutan cerita Deni, “Suaminya Yulli telah menjualnya ke Bang Solihin, terus suaminya sudah tidak di sini, dengar-dengar sih kabur ke Bali… Hutangnya besar Mat, dengar-dengar sampai miliaran Rupiah…”. Mendengar itu aku sangat kaget, apalagi aku hanya membawa puluhan juta Rupiah. “Dengar-dengar Fenny juga dijual ke Bang Solihin…”, lanjut Deni. “Apa bisa kami ketemu dengan ibunya Fenny?”, tanyaku. “Hmm, di sini tidak diperbolehkan bertemu tamu, kalau mau kalian boking aja…”, jawab Deni.

Aku sebenarnya cuma mau minta petunjuk ibunya Fenny, aku takut ketemu Bang Solihin yang semakin membuat kacau keadaan, apalagi nanti kalau dia tahu keberadaan Fenny ada di tempat kami. “Oke lah, kami bawa keluar…”, balasku. “Ops, ga bisa bro, cuma diperbolehkan main di sini… Ambil kamar saja, ga mahal kok, tar untuk kalian gue kasih diskon, apalagi Mamat kawan gue…”, jawab Deni. Mau tidak mau aku menyetujuinya.
Sambil menuntun kami ke arah kamar, Deni mengolok-ngolok kami, “Doyan threesome juga bro? Hahaha…”.

Mamat hanya membalas, “Kayak gak tau aja…”. Kuperhatikan keadaan sekeliling, isi gedung ini seperti hotel, ada sekat kamar di sepanjang lorong, kiri dan kanan, mungkin ada sekitar puluhan kamar di gedung ini. Kondisi pun bersih terawat, seperti hotel-hotel mewah pada umumnya. Ada beberapa gadis ABG berlalu lalang ditemani pria hidung belang. Kami menuju ke lantai dua, tidak jauh dari tangga, Deni membukakan pintu sebuah kamar.

Aku dan Syamsul masuk duluan, sedangkan Mamat membereskan pembayaran terlebih dahulu di depan kamar, seperti biasa, pengantar pasti minta tips.

Mamat dan Deni ngobrol cukup lama di depan pintu, aku membiarkannya, anggap saja mereka sedang reuni. Di dalam kamar terdapat ranjang besar, seorang wanita sedang duduk sambil nonton televisi.

“Yully?…” tanyaku padanya. “Iya, dua orang ya?”, tanya wanita itu.

Saat ia menoleh ke arahku, aku cukup kaget, dia seorang wanita yang cantik, wajah orientalnya sangat manis, tubuhnya masih seksi walaupun umurnya mungkin sudah menginjak kepala tiga.

 “Kami mau berbibcang sebentar…”, kataku sambil mendekatinya. “Oops, kalian kalau mau wawancara, minta ijin sama bos saja dulu…”, jawabnya yang kesal mengira kami adalah reporter.

“Gini… Kami mau tanya…”, belum sempat menyelesaikan pembicaraan, tante Yully langsung memotong, “Maaf, saya bekerja sesuai perintah atasan!”, hardiknya.

“Baiklah…”, jawab Syamsul yang juga terlihat kesal, ia langsung membuka resletingnya.

Padahal kami ke sini untuk maksud baik, dijawab seperti itu tentunya Syamsul cukup naik pitam.

Tante Yully langsung membuka laci meja yang ada di samping ranjang, ia mengeluarkan dua buah kondom lalu membukanya.

Syamsul segera menanggalkan seluruh pakaiannya, lalu mendekati tante Yully. Penisnya diarahkan ke wajah tante Yully agar tante Yully segera memakaikan kondom tersebut.

Setelah itu tante Yully langsung mengulum penis Syamsul yang telah dibungkus kondom bercita rasa pisang.

Di sini memang sangat terjaga akan keamanannya, tidak boleh ada yang tidak memakai kondom. Makanan dan minuman pun dilarang bawa dari luar, bahkan rokok sekalipun.

Seminggu sekali para wanita penghibur di sini juga dicek kesehatannya, bila ada yang terjangkit penyakit HIV AIDS maka akan segera diungsikan ke panti rehabilitasi.

Melihat aksi tante Yully mengulum penis Syamsul seperti menikmati eskrim calpico yang nikmat, penisku pun terasa mengeras.

Aku juga tidak memikirkan tujuan kedatangan kami lagi, segera aku juga membuka pakaianku hingga telanjang bulat. Ku dekati tante Yully dan ku pretel habis pakaian tante Yully.

Susunya besar dan motok, segera kuremas-remas dengan penuh nafsu. Setelah puas dikulum, Syamsul ingin merasakan goyangan tante Yully, ia segera membaringkan tubuh tante Yully dan menusukkan penisnya langsung ke vagina tante Yully.

Karena sibuk melayani Syamsul, aku yakin tante Yully tidak sempat memakaikan kondom ke penisku, jadi terpaksa aku memakaikannya sendiri.

 ‘Wah, dapat rasa strawberry nih’, pikirku dalam hati melihat bungkus kondom yang barusan ku sobek.

Aku sudah tak sabar ingin merasakan kuluman tante Yully.

Ku arahkan penisku ke mulut tante Yully yang terbaring di atas ranjang.

Dua lubang dibantai sekaligus, sepertinya tante Yully sudah sangat terlatih.
Kata orang, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, hmm, ternyata benar, kecantikan Fenny dan tante Yully sudah bagaikan pinang dibelah dua.

Anak dan ibu sangat cantik hingga menggoda nafsu. “Oh yes…”, desahku kenikmatan merasakan penisku yang semakin hangat di dalam mulut tante Yully.

Tante Yully pun sepertinya sangat menikmati penisku, hahaha, benar-benar dicicipi seperti permen lolipop rasa strawberry.

“Ini rasa kesukaanku…”, kata tante Yully menyempatkan bicara disela menyepong.


Tubuhnya bergoncang karena tusukan Syamsul yang bersemangat, susunya kuremas, cukup besar hingga tanganku hampir tidak menutupinya. Matanya hanya meram melek menikmati goyangan.

Aku sebenarnya kurang tega, karena anaknya, Fenny sudah bergabung dengan kami, tapi kapan lagi dapat kesempatan seperti ini?

Hampir setengah jam kami bercinta two in one, Mamat pun belum kunjung masuk menyusul. Aku pun sudah bergantian posisi dengan Syamsul. Walau tante Yully sudah berumur, tapi vaginanya masih seret, hanya karena becek membuat aku lebih mudah melesapkan penisku ke lubang vaginanya.

Ku peluk tubuh tante Yully hingga dadaku menyentuh erat dengan susunya, ku goyang terus di atas ranjang, sedangkan Syamsul sedang istirahat, ia menyalakan rokok dan duduk sambil memilih siaran televisi.

Cukup lama aku menikmati tubuh tante Yully, hingga aku pun berejakulasi. Ku tarik penisku yang penuh dengab sperma terbalut kondom.


Tante Yully kemudian terkapar karena cukup lelah.

Aku pun meninggalkannya untuk membersihkan penisku di kamar mandi. Dalam kamar mandi ku dengar Syamsul dan tante Yully sedang berbincang-bincang, Syamsul pasti menceritakan maksud kedatangan kami.

Aku pun keluar dari kamar mandi, walaupun kami bertiga masih dalam keadaan bugil, tapi kami tidak sungkan untuk saling berkenalan.

Tante Yully langsung meneteskan air mata setelah mendengar kabar dari kami. “Fenny yang malang…”, kata tante Yully. “Bapaknya yang penjudi itu telah menjual kami ke bang Solihin, untungnya Fenny bisa kabur…”, sambung tante Yully. “Tante sudah nyicil hutang-hutang bapaknya Fenny, tidak banyak lagi, semoga tante bisa keluar dari tempat ini dan segera bertemu dengan Fenny…”, kata tante Yully yang membuatku menjadi sedikit iba.

Ia benar-benar merindukan anaknya, air matanya bercucuran hingga membasahi pipinya. “Tenang saja, Fenny baik-baik saja, dia juga rindu kok sama tante…”, aku berusaha membujuknya agar tidak menangis lagi.

Lalu kucari celanaku untuk mengambil uang, “Emangnya sisa hutangnya berapa?”, aku bertanya kembali.
“Tinggal seratus juta, tapi bang Solihin sangat kejam, ia pasti menghitung bunganya juga…”, jawab tante Yully semakin sedih. ‘Waduh, uang yang ku bawa tidak lah cukup’, pikirku dalam hati.

Aku pun menjelakannya kepada tante Yully agar dia tenang, karena aku akan menghubungi Herman untuk membawa sisanya.

“Telp boss lah Syam…”, aku memerintahkan Syamsul. Ia lalu berdiri dan mencari handphone nya yang tertinggal di saku celana.

Belum sempat mendapati handphone, pintu pun terbuka. Mamat masuk beserta seorang pria besar dengan tegap dan berwajah garang.

“Man, nih bang Solihin…”,

Mamat memperkenalkanku dengan pria berwajah garang itu.

“Boss…”, sapa tante Yully kepada pria itu.

Aku pun kemudian berjabat tangan dengannya, pria besar itu adalah pimpinan di sini, wajahnya terdapat goresan, membuatku sedikit takut melihatnya.

“Oke, Mamat sudah menjelaskan kedatangan kalian… Kalau tidak memandang Mamat, aku tak akan lepaskan wanita ini…”, kata bang Solihin.

Mungkin Mamat sudah banyak berjasa padanya.
“Kalian bawa saja wanita ini…”, katanya. “Terima kasih bang…”, kami mengucapkan terima kasih padanya.
Pria besar itu pun pergi dari kamar sambil berkata, “tapi main-nya ga gratis ya…”. Kami pun tertawa sambil menjawab, “Iya bang, kami tambah waktu… Tar kami bayar…”, jawab kami.

Tante Yully kegirangan lalu memelukku yang berada paling dekat dengannya. “Thanks…”, bisiknya di dekat telingaku.

Mamat yang tadi tidak sempat menikmati tante Yully pun segera menanggalkan pakaiannya. “Ini ga gratis loh, bang Solihin minta bantu menemukan keberadaan bapaknya Fenny…”, kata Mamat.

Ternyata sedari tadi Mamat bernegosiasi dengan bang Solihin. “Tenang aja bro, itu sudah kerjaan kita dari dulu…”, lanjut Syamsul.

“Sebagai tanta terima kasih, aku akan melayani kalian seumur hidup…”, kata tante Yully yang kemudian kembali membagikan kami kondom. Hahaha, ronde selanjutnya nih.
Aku dan Syamsul membiarkan Mamat beraksi sendiri terlebih dahulu. Tante Yully melayani Mamat dengan sangat semangat, tanpa kenal lelah.


Ini kesempatan kami, karena kalau sudah kembali ke tempat kami, Herman lah yang berkuasa. Mamat menyetubuhi tante Yully dengan nafsu selayak suami istri, permainan cinta yang kemudian mengundang nafsu birahi kami.

Hatiku kembali berkecamuk, jantungku berdegup kencang, dan penisku mulai kembali menegang. “Napa man? Mau lanjut?”, tanya Syamsul yang sedang duduk di sampingku. 

“Hahaha, kayak bro ga nafsu aja…”, balasku yang kembali menghisap rokok dan mencari channel tv yang enak ditonton.

Syamsul juga kelihatan kembali bergairah, malu menjawab pernyataanku tadi, ia hanya memainkan penisnya yang kembali mengeras.

Mamat memeluk tante Yully dengan erat, dilumatnya bibir tante Yully sambil menggoyangkan pinggulnya untuk mengocok vagina tante Yully dengan penisnya. “Enakk…”, rintihan tante Yully yang benar-benar jelas terdengar.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, aku pun bangkit dan coba melihat apa yang terjadi. “Ada apa?”, tanyaku melihat Deni di depan pintu. “Jangan lama mas, takut boss berubah pikiran…”, kata Deni yang sedari tadi juga mengawasi gelagat bang Solihin. “Kalau ga mandang Mamat, gue sih ga bakal kasih saran…”, lanjut Deni. “Iya bro, ne lagi tungguin Mamat…”, jawabku. Benar juga pikirku dalam hati, bang Solihin sudah memberi kemudahan, kalau ia berubah pikiran, bisa-bisa kami tidak diperbolehkan keluar dari sini.

Aku pun kembali masuk dan mengenakan kembali pakaianku.
“Mau ke mana man? Belum ronde dua nih…”, tanya Syamsul. “Kita mesti cepat tinggalin tempat ini bro, sebelum bang Solihin berubah pikiran…”, jawabku sambil mengemas semuanya.

Mendengar itu, Syamsul juga segera memakai kembali pakaiannya. Kami hanya menunggu Mamat dan tante Yully menyelesaikan acara mereka.

Tidak lama, mereka sudah terkapar, Mamat dan tante Yully sudah menyelesaikan permainan cinta mereka dan mencapai orgasme. Aku pun meminta mereka segera bergegas untuk meninggalkan tempat ini.

Tanpa menunggu lama, kami pun keluar, tak berani berpamitan dengan bang Solihin, kami hanya keluar dengan diantar oleh Deni sampai ke parkiran. “Thanks bro..”, salam Mamat sambil berjabat tangan dengan Deni.

“Sip, kapan-kapan kita ngumpul lagi…”, balas Deni.
Aman pikirku, kami pun keluar dari tempat itu. Aku menyupir dan Mamat duduk di sampingku, sedangkan Syamsul dan tante Yully duduk di belakang.

Ternyata di sepanjang perjalanan, Syamsul melanjutkan percintaannya dengan tante Yully.

Ia membuka resleting celananya dan mengeluarkan penisnya yang sudah mengerah.

Tante Yully pun mulai mengocoknya, mereka tidak takut dengan pandangan dari luar, karena jendela mobil menggunakan kaca film, sehingga sulit melihat jelas ke dalam mobil dari arah luar.

Tante Yully sudah profesional, ia mulai menundukkan kepalanya untuk menyepong penis Syamsul. Sialan pikirku, tahu gini aku milih duduk di belakang saja deh. Sedikit iri juga karena permainan mereka hanya membuat penisku terangsang tanpa pelampiasan.
Akhirnya sampai juga di tempat usaha Herman, sedangkan Mamat dan tante Yully sudah menyudahi aktivitas mereka.

Kami segera naik ke lantai tiga, tempat biasanya kami berkumpul.

“Mamaaaa…..”, teriak Fenny ketika melihat kami tiba bersama ibunya. “Sudah beres?”, tanya Herman padaku. “Sip dah…”, jawabku.

Reuni antara ibu dan anakpun berlangsung beberapa saat, setelah itu kami pun saling berkenalan.

Hmm, nambah anggota lagi nih tempat kami. “Oke, nanti malam kita buat pesta…”, kata Herman membuat seluruh orang di sini bersorak gembira.

sumber : http://ceritajavjepang.org

ML Pertama kali

Pagi itu aku tidak ada kuliah sehingga hari ini aku punya acara bebas dari pagi sampai malam. Jam 7 pagi aku udah mulai mandi pagi, sambil mikirin rencana hari ini. Sehabis ganti baju dan sarapan, aku ninggalin tempat kos-ku dan bawa motorku ke rumah pacarku, Yati.

Sekitar jam 8 pagi aku udah nyampe di rumahnya, kebetulan hari ini dia juga lagi libur. Kutunggu agak lama setelah memencet bel rumahnya, Yati membukakan pintu depan rumahnya, “lho kok sepi, pada kemana ? tanyaku sambil masuk ke rumahnya, “oh Mama lagi ke Pasar Baru, si adik sudah berangkat pagi ke sekolah, ada PR” katanya.

“Duduk dulu ya, aku mau pake baju dulu nih, soalnya habis mandi buru-buru ada bel bunyi dan aku yakin pasti kamu yang datang, jadinya cuman sempet pake handuk sama kaos aja”.
“Pasti belum pake baju dalam ya ? tebakku sambil senyum. “Ih dasar cowok, pikirannya yang ngeres-ngeres aja, ” tapi suka kan …hi hi hi.

Sambil berjalan ke kamarnya, aku lihat pinggul dan pantat pacarku ini benar-benar aduhai, betisnya putih apalagi pahanya pasti lebih ok dan yang paling memabukkan adalah buah dadanya yang ranum dan montok, kaos ketatnya membungkus payudara indah tanpa BH itu dengan sempurna, memperlhatkan lekukan dada wanita yang sempurna.

Kebayang waktu kenalan dulu, wih tangannya putih sekali dan mulusnya ampun, banyak cowok yang suka sama dia, tapi namanya cinta nggak bisa diboongin.

“Sorry ya agak lama, nih kopi kesukaanmu mas “, aku agak kaget juga.
“Eh, makasih ya?!” kataku sambil kaget dan agak konak lihat pakaiannya,
Yati cuma make celana pendek tipis batik yogya dan kaos tipis ketat coklat muda tanpa lengan dengan belahan kaos rendah yang memperlihatkan belahan dadanya yang putih dan montok.


“Aku minum ya, wah masih panas sekali’ kataku sambil megangin mulutku yang kepanasan, Yati ketawa ” makanya kira-kira ya kalau mau minum tiup dulu donk, mas”. “Wah lihat nih, lidahku sampai merah gini, mesti diobatin nih kalau nggak bisa dioperasi”, kataku.

“Aduh kacian, sini ibu guru lihat dulu” kata Yati sambil duduk disampingku dan memegang mulutku, aku diam dan memperlihatan lidahku yang kepanasan, sementara kuhirup wangi tubuhnya yang habis mandi, hmm.

Kudekatkan dudukku pada tubuh Yati, sambil tangannya melihat-lihat lidahku, tanganku memeluk pinggulnya dari samping sambil kulirik belahan dadanya yang putih, montok menantang dan menggairahkan itu.

Sambil kupeluk tubuhnya, kurasakan kehangatan tubuh dan payudaranya yang montok membuat kontolku bangkit dan mulai membesar dengan cepat, hingga menyesakkan celana yang kupakai, “idih, kok sampai merah gini” kata Yati, tiba-tiba mulutku dilumat olehnya dan tanpa menunggu lagi sambil tetap kupeluk tubuhnya akaupun gantian memgulum, melumat dan mencium bibir seksinya dengan penuh gairah, satu hal yang kusuka dari pacarku, meskipun dia orangnya pendiam kalau urusan lumat melumat dia jadi sangat ahli sekali, dan lumatan bibir seksinya sungguh sangat menggairahkan.

Tiba-tiba Yati mengangkat pantatnya dan duduk diatas pangkuanku, bongkahan pantatnya terasa sangat hangat kenyal dan menekan kontolku yang sudah mengeras, “Ih adikku sudah berdiri, katanya sambil menggoyangkan pantatnya diatas kontolku”.

Kulihat matanya sudah mulai nanar dan sedikit berair, pandangannya mulai agak sayu, kemudian aku mulai beralih menciumi leher putihnya dan sedikit jilatan dibelakang telinga,kelihatannya salah satu titik rangsangnya ini sangat menggairahkan nafsu seks-nya, lebih kebawah lagi, kuraba dari luar bongkahan payudaranya sudah sangat mengeras dan lebih membesar dari biasanya, pelan kuangkat kaosnya dan sepasang penutup BH-nya, payudara yang putih dan montok itupun menyembul dari dalam BH hitam yang dipakainya, sangat kontras sekali dengan dadanya yang sangat putih dan montok itu.

Kuciumi dengan rakus payudara montok itu dan kujilati dengan lidahku, sampai akhirnya ke titik pusat dadanya, putting susunya yang sudah tegak seperti penghapus pensil di ujung, kujilati putting susunya dan ternyata titik inipun sangat mempengaruhi gairahnya, terlihat kedua tangannya dilepas dari pelukannya dan tangannya memegang dan menarik rambut panjangnya kebelakang sambil mulutnya mendesis seperti orang kepedasan.

Tiba-tiba tubuhnya menggelinjang kuat sekali dan memeluktubuhku erat sekali sambil digoyang-goyangkan pantatnya diatas ****** tegakku dan akupun terasa dikeliilingi daging nikmat, dari sepasang dadanya yang montok dan ranum serta dibawah bongkahan pantatnya yang nggak kalah montok dan padat.

Sejenak dia terdiam sambil tetap memelukku dan dia menggelendot manja diatas pangkuanku,
“Mas, kita kemarku yuk, takut di ruang tamu ada yang masuk, lagian disana kan lebih leluasa,
tapi aku minta digendong ya ..? pintanya manja.

Sambil tangannya memelukku, akupun menggendong tubuhnya yang ramping dan montok itu ke kamarnya yang lumayan jauh dari ruang tamu.

Setelah menaruh Yati diatas kasur, kuhampiri tape disamping tempat tidurnya dan kusetel lagu Forever In Love-nya Kenny G yang sampai saat ini menjadi lagu kenangan kami berdua.

Dalam ketegangan kontolku dan nafsu yang sudah naik, kuhampiri Yati, Kucium lembut bibirnya dan seluruh wajahnya mulai dari keningnya, jidat, matanya yang terpejam, hidung dan akhirnya kukecup dan akhirnya kulumat bibir seksinya, tanganku tak tinggal diam mulai dari kaos dan BHnya kubuka perlahan dan celana dalam hitam kecilnya yang menutupi lembah dan jembut halusnya, sambil terpejam Tangan Yati meraih kancing dan resluting celanaku dan didapatinya kontolku yang sudah tegak berdiri, kubantu melepas baju yang kukenakan sehingga kita berdua telanjang bulat dan hanya celana dalam Yati yang masih dipakainya.
Tiba-tiba tubuhku didorongnya, “berdiri dulu sayang, katanya, akupun turun dari tempat tidur dan Yati pun duduk ditepi tempat tidur dan sambil membelai kontolku yang sudah sangat tegang.

“Aku belum pernah lihat titit lelaki dewasa, tetapi punyamu besar sekali mas, sampai-sampai tanganku rasanya mantap sekali memegangnya, boleh aku belai sayang?”.
“Tentu, belai ciumi dan manjakan ****** besar ini sayang.”, kataku.
Kontolku sebenarnya nggak terlalu besar ya kira-kira pernah kuukur pakai penggaris panjangnya 15 cm dan bonggolnya sebesar pepsodent ukuran jumbo, yah perfectable size-lah menurut ukuran pacarku.

Sejak pertama kali mengenal oral sex hingga hari ini, Yati menunjukkan antusias yang sangat tinggi dengan kontolku, matanya sempat terbelalak saat pertama melihat dan memegang kontolku yang sudah ereksi. Apalagi saat pertama kali melakukan “karaoke”, istilahku jika ingin di-oral-sex sama pacarku, cara memperlakukan kontolku benar-benar istimewa, saat kutanya emangnya sudah pernah karaoke ya, pacarku marah besar, bagaimana mungkin jawabnya, ciuman bibir aja baru dengan kamu , dan akupun teringat first kiss buatku dan buat dia benarbenar berkesan, habis sama-sama baru sekali itu sih.

Sambil duduk dipingggir kasur kubuka pahaku sehingga kontolku yang sudah ereksi terlihat menantang seperti tugu monas, Yati jongkok dibawah sambil membelai perlahan kontolku, jari jemarinya menari-nari sepanjang kontolku mengikuti urat-uratnya yang menonjol sambil sesekali meremas dengan gemas, kulihat payudara Yati sangat menantang dan sesekali kuremas juga susunya.

Dari pangkal kontolku, dekat anus, tiba-tiba Yati menjulurkan lidahnya dan menjilat-jilat bonggol kontolku, jilatan itu kemudian berpindah keatas mengikuti batang kontolku, hingga akhirnya kepala kontolku dijilat dan disedot perlahan-lahan. Kurasakan aliran darah mengalir keras disepanjang urat kontolku, dan ketegangannya mungkin sudah mencapai 100%, kepalanya membesar seperti helm tentara, warnanya kemerah-merahan dan berdenyut-denyut nikmat sekali.

Sampai akhirnya batang kontolku mulai dilumat dan dimasukkan ke dalam mulutnya, perlahanlahan hingga kurasakan menyentuh ujung tenggorokannya, sementara masih tersisa sekitar 5 cm. “Masukkan semuanya dong, pintaku, “Gimana mau masuk lagi, kontolmu terlalu panjang buat mulutku, katanya sambil melepaskan kulumannya.

Akhirnya keluar masuk kontolku dimulutnya, wah rasanya nikmat sekali, mungkin seperti ini rasanya bersenggama, pikirku, kami memang selama ini belum pernah melakukan persetubuhan hingga memasukkan kontolku ke dalam vaginanya, yah hanya sekedar berbugil sambil menjilat dan mengulum alat kelamin dan orgasme tanpa melakukan senggama.

Suasana pagi yang sejuk, karena jendela kamar yang terbuka ditambah alunan instrumen Kenny.G membuat kami sama-sama terbuai dan lupa dengan segala sesuatunya. Sambil kujamah payudaranya, Yati kutarik dan kurebahkan di atas tempat tidur, wajahnya benarbenar merangsang, matanya berbinar, bibirnya memerah dan payudara sangat kencang dan memadat dengan putting susu yang mengeras. Seperti diawal aku mulai menciumi wajah dan bibirnya kemudian aku turun kebawah, kuciumi dan kujilati mulai dari jari-jemarinya yang putih mulus hingga ke betis indahnya, sambil kubelai dan kusentuh paha mulusnya, tanpa terasa aku menyentuh CD hitamnya dan perlahan kuturunkan dan kulepaskan, Yati diam dan hanya mendesah-desah menahan kenikmatan itu.

Sampai di pahanya kubelai dan kuciumi paha mulusnya seinchi demi seinchi kelihatan sekali dia begitu terangsang, sebelum sampai ke pangkal pahanya, aku naik dan mulai menjilati dadanya. Payudara yang putih dan mulus itu kuremas sambil mulai kujilati melingkar hingga sampai ke putingnya kujilati dan kusedot penuh nafsu, Kulihat pinggul dan pantat Yati bergerak dan menggelinjang tak karuan menahan kenikmatan jilatan, sedotan dan remasanku.

Kujilati kebawah lagi dan sampai ke perut Yati yang sangat mulus dan akhirnya hingga ke bukit indah yang ditumbuhi rumput hitam yang halus dan sangat kontras dengan kemulusan tubuhnya. Kusibakkan bulu-bulu halus yang menutupi vagina pacarku, terlihat bibir vaginanya masih tertutup rapat,namun terlihat disitu ada cairan disekelilingnya, ternyata dia sudah mulai basah.

Kubuka sedikit dan terlihat kelentitnya berwarna merah jambu, kecil, menonjol dan kelihatan membasah, kuraba perlahan, Yati melenguh keras dan menggoyangkan dan mengangkat pantatnya, Kuraba perlahan dengan jari telunjukku dan akhirnya mulai kujilati dengan ujung lidahku, kembali terdengar erangan dan lenguhannya merasakan nikmat yang luar biasa.

“Mas, tolong aku sayang, masukkan ****** besarmu ke vaginaku, aku sudah tak tahan lagi menahan kenikmatan ini, pintanya sambil setengah menangis. ” jangan sayang, kita belum boleh melakukan ini, toh nanti kita juga akan menikah, kataku masih sadar, meskipun aku jiga sudah tidak kuat lagi menahan nafsuku.
“Biarlah mas, aku rela mmberikan perawanku untukmu sayang, aku sangat mencintaimu dan aku takut kehilangan dirimu, kata Yati, sambil mulai menarik kontolku ke arah vaginanya yang membasah.
Kontolku yang sudah agak menurun, mulai bangkit lagi begitu menyentuh bibir vagina Yati, sangat tegang dan begitu membesar. Dengan masih deg degan akhirnya sedikit demi sedikit kumasukkan batang kontolku ke dalam vaginanya, saat kucoba menyelipkan kepala kontolku ke mulut vaginanya rasanya peret dan sulit sekali, kulihat Yati sedikit meringis dan membuka mulutnya dan sedikit menjerit, “aaah” ,namun akhirnya kepala kontolku sudah mulai masuk dan mulai kurasakan kehangat vaginya, perlahan kumasukkan seinchi demi seinchi, pada centimeter ke 3 menuju ke 4, Yati tiba-tiba berteriak dan menjerit, ” aduh mas sakit sekali, katanya, seperti ada yang menusuk dan nyerinya sampai ke perut”, katanya.
“Aku cabut aja ya ?”
” Jangan, biarkan dulu kutahan rasa sakit ini, aku yang sudah merasa kenikmatan yang luar biasa dan sedikit demi sedikit mulai kumasukkan lagi batang kontolku.

Kulihat Yati meneteskan air mata, namun tiba-tiba dia menggoyangkan pantatnya dan tentunya akhirnya kontolku hampir seluruhnya masuk, kenikmatan yang belum pernah kurasakan, kontolku serasa digigit bibir yang kenyal, hangat, agak lembab dan nikmat sekali. Akhirnya kamipun mulai menikmati hubungan badan ini, ” mas rasa sakitnya sudah agak berkurang, sekarang keluar masukkan kontolmu mas, rasanya nikmat sekali.
Perlahan aku mulai mengayun batang kontolku keluar masuk ke vagina Yati, kulihat tangannya diangkat dan memegang erat-erat kepalanya dan akhirnya menarik sprei tempat tidurnya, sementara pahanya dia kangkangin lebar-lebar dan mencari-cari pinggulku, hingga akhirnya kakinya melingkar di pantatku dan seolah meminta kontolku untuk dimasukkan dalam-dalam ke vaginanya.

Beberapa kali ayunan, akhirnya aku agak yakin dia sudah tidak begitu merasakan sakit di vaginanya, dan kupercepat ayuhan kontolku di vaginanya.

Yati berteriak-teriak dan tiba merapatkan jepitan kakinya di pantatku, kepala menggeleng-geleng dan tangannya menarik kuat-kuat sprei tempat tidurnya, mungkin dia mau orgasme, pikirku.

Tiba-tiba tangannya memelukku erat-erat dan kakinya makin merapatkan jepitannya di pantatku, kurasakan payudara besarnya tergencet dadaku, rasanya hangat dan kenyal sekali, aku diam sejenak dan kubenamkan kontolku seluruhnya di dalam vaginanya.

” Oh, mmmas aku keluar…. Ahhhhhhhhhhhhh ….ahhhhhhhhhhhhh…. ahhhhhhhhhhh, Aku merasakan nikmat yang amat sangat, kontolku berdenyut-denyut, rasanya aliran darah mengalir kencang di kontolku, dan aku yakin kontolku sangat tegang sekali dan begitu membesar di dalam vagina Yati, sepertimya aku juga akan mengeluarkan air kejantananku.

Kubuka sedikit jepitan kaki Yati dipantatku, sambil kubuka lebar-lebar paha Yati, kulihat ada cairan kental berwarna kemerah-merahan dari vagina Yati, kontolku rasanya licin sekali dialiri cairan itu, dan akhirnya dengan cepat aku kayuh kontolku keluar masuk dari vagina Yati, nikmat sekali rasanya.

Ada mungkin delapan sampai sembilan kayuhan kontolku di vagina Yati, tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang akan meledak dari dalam kontolku dan akhirnya …. Crooot …croooot ….crooot …crooot. Kontolku yang sudah kucabut dari dalam vagina Yati, kudaratkan di atas perut mulusnya dan semburan air kejantananku muncrat sampai ke rambut, pipi,sebagian mulutnya, payudara dan diatas perut Yati, kuurut-urut batang kontolku dan tetesan air maniku berjatuhan di atas jembut halus kekasihku.

Aku merebahkan diri disamping tubuh mulus Yati, kupeluk dia sambil kubelai rambutnya, Yati terpejam, diam dan tiba-tiba dari ujung kedua belah matanya yang terpejam menetes air mata. Kuseka air matanya dan kupeluk dia erat-erat, dan dia memelukku juga, ”

Mas, hari ini aku sudah persembahkan kesucianku untukmu, sesuatu yang berharga yang kumiliki telah kuberikan padamu, aku nggak mau kehilangan dirimu dan tak akan kulupakan seumur hidupku peristiwa indah hari ini … Aku sangat mencintaimu mas”.

Yati bangun dari rebahannya, mengambil saputangan dan membersihkan bercak dari sela-sela vaginya yang telah bercampur dengan cairan kenikmatannya, saputangan biru itu berbercak merah, memenuhi hampir setengah lembar saputangan biru itu.

“Saputangan ini akan kusimpan selamanya, sebagai tanda buat cinta kita, mas” Aku terdiam, kemudian kubelai rambut indahnya, kukecup keningnya dan kukatakan, ” Hari ini 14 November 1994, aku telah kau berikan sesuatu yang berharga darimu, keperawananmu membuktikan cinta sucimu, aku juga sangat mencintaimu, kuambil keperawananmu dengan keperjakaanku, dan tak kan kulupakan hari ini selama hidupku”.

Dalam keadaan sama-sama bugil, kupeluk tubuh Yati, kehangatan tubuhnya mengalir ke setiap pori-pori dan diapun meraskan hal yang sama, ” tahun depan aku sudah lulus, selanjutnya aku akan melamarmu dan kita akan menikmati cinta kita selamanya, aku mencintaimu Yati”. ” Mas, aku bangga memilikimu, lelaki sepertimu yang memang aku idamkan selama ini”.

Keringat yang mengalir di badanku diseka Yati dengan handuk dan dia membersihkan kontolku dengan handuk basah, akupun jadi terangsang lagi,

” Ih, si Adik kok bangun lagi, kamu benar-benar perkasa mas”, aku tersenyum, sebenarnya aku masih ingin melakukan sekali lagi tapi jam sudah menunjukkan jam 11.30, aku takut kalau tibatiba mamanya pulang.

Kugandeng tangan Yati dan membawanya ke kamar mandi dan dibawah guyuran shower kamar mandinya kita mandi bersama, saling menyabuni dan bercanda bersama, Kontolku menjadi tegang saat mandi dan Yati sempat memasturbasi kontolku yang sudah tegang dengan busa sabun, tangannya yang halus sangat lincah mengocok batang kontolku, sekitar lima menitan air maniku sempat keluar lagi dan muncrat sampai ke atas seperti air mancur, Yati tertawa puas, menciumiku dan melanjutkan mandi sampai selesai.

Selesai mengeringkan badan, rambutku dikeringkan Yati dengan hairdryernya, kupakai bajuku dan kitapun kembali ngobrol di ruang tamunya, ngopi, ngobrol dan bercanda sambil bermesraan menikmati hari indah itu. END

Sumber : http://www.ceritadewasaigo.com



Nikmatnya bercinta dengan Istri Tetangga ku

Tante Yanti 35 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang.Suaminya,38 tahun, seperti itu sih setahu aku suaminya adalah karyawan dari salah satu perusahaan swasta di Kota Pontianak

Perawakan  Tante Yanti sebetulnya biasa saja seperti kebanyakan wanita kompleks lainya. Yang membuat Tante Yanti menarik adalah bentuk tubuhnya yang sangat terawat. Kulitnya Putih, Buah dadanya tidak terlalu besar, tapi enak untuk dipandang mata dan di nikmati, sesuai dengan pinggangnya yang ramping dan pinggulnya sedikit tepos

Istri Tetangga Yang Aku Kira Setia Ternyata Malah Mengajakku bercinta setiap kali ada kesempatan. Ketika Aku lihat Kehidupan rumah tangga mereka sangat harmonis dengan 2 anak yang sedang lucu-lucunya, ditambah dengan posisi jabatan suaminya yang cukup tinggi di perusahaannya, membuat mereka menjadi keluarga yang cukup di hormati di lingkungan kompleks kami tinggal.

Tante Yanti pada dasarnya adalah istri yang sangat setia kepada suaminya. Tidak pernah ada niat berkhianat terhadap suaminya dalam hati Tante Yanti karena dia sangat mencintai suaminya.

Akan tetapi karena ada satu peristiwa yang menjadi awal berubahnya cara berpikir Tante Yanti tentang cinta.
Suatu hari lebih tepatnya sekitar siang hari, Tante Yanti sedang mengasuh anaknya di depan rumah. Dikarenakan anaknya yang masih sangat kecil waktu itu berlari jauh dari rumah, maka Tante Yanti langsung mengejar anaknya

Tapi tanpa disengaja, kakinya menginjak sesuatu sampai akhirnya Tante Yanti terjatuh. Lututnya memar, agak mengeluarkan darah. Tante Yanti langsung berjongkok dan meringis menahan sakit.

Pada waktu itu, Sebut saja namaku Darmawan, anak tetangga rumah Tante Yanti kebetulan waktu itu aku lagi lewat sekitar rumahnya , rencana mau pulang lewati jalan depan rumahnya karena aku rasa lebih dekat ambil jalur itu.

Ketika aku mulai mendekati arah rumahnya...aku melihat Tante Yanti sedang jongkok sambil meringis memegang lututnya,ti tepi jalan  aku langsung lari menghampiri Tante Yanti
“Kenapa tante?” tanya Aku
“Aduh, lutut saya luka karena jatuh,…” Tante Yanti sambil meringis.
“Bantu saya berdiri, Wan…” kata Tante Yanti
“Iya tante,” kata ku sambil memegang tangan Tante Yanti dan dibimbingnya bediri.
“Wan, tolong bawa anak  saya kemari.. Anterin ke rumah saya, ya…” kata Tante Yanti .
“Iya tante,” kata aku sambil segera menghampiri anaknya Tante Yanti
.
Sementara Tante Yanti segera pulang ke rumahnya sambil tertatih-tatih.

Sewaktu aku mengantarkan anak Tante Yanti ke rumahnya, Tante Yanti sedang duduk di depan rumahnya  sambil memegangi lututnya.
“Ada obat merah tidak, tante?” tanya ku.
“Ada di dalam, ....,” kata Tante Yanti

“Kita ke dalam saja…” kata Tante Yanti lagi sambil bangkit dan tertatih-tatih masuk ke dalam rumah.
Aku dan anaknya mengikuti dari belakang.
“Ma, Aku ngantuk,” kata anaknya kepada" Tante Yanti .
“Tunggu sebentar ya, Wan. Saya mau nidurin anak saya dulu ke kamarnya. Sudah waktunya anakku tidur siang,” kata Tante Yanti sambil bangkit dan tertatih-tatih mengantar anaknya ke kamar tidur.

Setelah mengantar mereka tidur, Tante Yanti  kembali ke tengah rumah.
“Mana obat merahnya, tante?” tanya Aku
“Di atas sana, ..…” kata Tante Yanti sambil menunjuk kotak obat.
Aku segera bangkit dan menuju kotak obat untuk mengambil obat merah dan kapas.

Tak lama aku segera kembali dan mulai mengobati lutut Tante Yanti yang mulus putih bersih itu.
“Maaf ya, tante.. Saya lancang,” kata ku.
“Tidak apa-apa kok, ..... Tante senang ada yang menolong,” kata Tante Yanti  sambil tersenyum.

Aku mulai memegang lutut Tante Yanti dan mulai memberikan obat merah pada lukanya.
“Aduh, perih…” kata Tante Yanti sambil agak menggerakkan lututnya.
Secara bersamaan Rok Tante Yanti agak tersingkap sehingga sebagian paha mulusnya nampak di depan mata aku. Waaah Aku terkesiap melihatnya. tapi aku pura-pura tak melihatnya.

Tapi tetap saja paha mulus Tante Yanti semakin menggoda ku untuk melirik dan menikmatinya sampai laju jantungku berdetak begitu sangat lajunya

Hati Aku agak berdebar.....Biasanya Aku hanya bisa melihat dari kejauhan saja lekuk-lekuk tubuh Tante Yanti . Atau kadang-kadang hanya kebetulan saja melihat Tante Yanti memakai celana pendek dan melirik belahan buah dadanya di rumahnya ketika melewati rumahnya.

Aku hanya biasanya hanya bisa membayangkan saja keindahan tubuh Tante Yanti sambil onani.

Tapi kini, di depan mata ku sendiri, paha mulus Tante Yanti sangat jelas terlihat, lekukan bentuk pepeknya begitu jelas terlihat oleh mataku.
Tante Yanti sepertinya sadar kalau mata aku sesekali melirik ke arah paha dan pepeknya.

Segera Tante Yanti merapikan posisi duduknya dan juga menutup pahanya.
Aku pun sepertinya terkesima dengan sikap Tante Yanti  tersebut. dan menjadi malu sendiri..
“Sudah saya berikan obat merah, tante…” kata ku
“Iya, terima kasih,” Tante Yanti sambil tersenyum manis.
“Sekarang sudah mulai tidak terasa sakit lagi,” Ujar Tante Yanti lagi sambil tetap tersenyum.

Di usiaku yang baru menginjak, 21 tahun, Aku adalah anak tetangga di sekitaran rumah Tante Yanti . Masih duduk di bangkuKulihan. Aku seperti kebanyakan anak laki-laki tanggung lainnya, Aku adalah sosok anak laki-laki yang sudah mulai mengalami masa puber.

“Kenapa kamu nunduk terus, ....?” tanya Tante Yanti
“Tidak apa-apa, tante…” Kata aku" sambil sekilas menatap mata Tante Yanti lalu menunduk lagi sambil tersenyum malu.

“Ayo, ada apa?” tanya Tante Yanti lagi sambil tersenyum.
“Anu, tante.. Maaf, mungkin tadi sempat marah karena tadi saya sempat melihat secara tidak sengaja…” kata aku sambil tetap menunduk.

“Lihat apa?” tanya Tante Yanti pura-pura tidak mengerti.
“Lihat.. Pep... Lihat itu paha sama belahan Pep...pek  Tante....,” kata aku
"Tante Yanti tersenyum mendengarnya......perkataanku

“Tidak apa-apa kok, Wan,” Tante Yanti
“Kan hanya melihat.. ...Bukan memegang,” kata  Tante Yanti lagi sambil tetap tersenyum manis menggoda ku
“Lagian, saya tidak keberatan kok kalau kamu melihat paha tante tadi,” kata Tante Yanti lagi sambil tetap tersenyum.

“Kamu kan tadi sedang menolong  tante memberikan obat,” kata Tante Yanti
“Benar tante tidak marah?” tanya aku sambil menatap matanya Tante Yanti
Tante Yanti menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum. "Aku pun jadi ikut tersenyum."
“Tante sangat cantik kalau tersenyum,” kata aku mulai berani menggodanya.
“iiiiiiiiiihh, kamu tuh masih kecil sudah pintar merayu…” kata Tante Yanti

“Saya berkata jujur loh, tante,” kata ku
“Kamu sudah makan, ....?” Tanya Tante Yanti
“Belum tante. Saya pulang dari rumah teman tadi belum makan,” kata aku
“Makan disini  aja, ya.. Temani Tante makan siang,” ajak Tante Yanti
“Baik tante, terima kasih,” Ucapku

Lalu aku di suguhkan hidangan makan siang di meja makan kecil.
Ketika sedang menikmati makan, tanpa sengaja kaki aku  menyentuk kaki Tante Yanti.
"Aku kaget, ......lalu segera menarik kakinya.
“Maaf tante, saya tidak sengaja,” kata ku"

“Tidak apa-apa kok,...…” kata Tante Yanti sambil matanya menggodaku dengan pandangan yang berbeda.
Ketika kaki kamu menyentuh kaki tante, seperti terasa ada sesuatu yang berdesir dari kaki yang tersentuh sampai ke hati. Tante Yanti merasakan sesuatu yang lain akan kejadian tak sengaja itu..
Tiba-tiba Tante Yanti merasakan ada sesuatu keinginan tertentu muncul yang membuat perasaannya tidak menentu. Sentuhan kaki kamu terasa begitu hangat dan membangkitkan suatu perasaan aneh..

“Kamu sudah punya pacar, ....?” Tanya Tante Yanti sambil menatap wajahku
“Belum tante,” kata aku menggelengkan kepala ....sambil tersenyum.

“Lagian saya tidak tahu caranya mendapatkan perempuan,” ujar ku lagi sambil tetap tersenyum.
Tante Yanti pun ikut tersenyum.

“Pernah tidak kamu punya keinginan tertentu terhadap perempuan?” tanya Tante Yanti lagi.
“Keinginan apa tante?” tanya aku,  Tante Yanti pun tersenyum.
“Kita habiskan dulu makannya. Nanti kita bicarakan …” kata Tante Yanti
Setelah selesai makan dulu, Kami duduk berdua di ruang TV.
“Kamu ada sesuatu yang harus di selesaikan di rumah tidak saat ini?” Tante Yanti
“Tidak ada, tante,” kata Aku

“Tadi tante mau tanya apa?” kata aku yang membuat penasaran.
“Begini, apakah kamu suka kepada wanita tertentu? Maksud saya suka kepada tubuh wanita?” tanya Tante Yanti

“Kita bicara jujur saja, ya.. Saya tidak akan bicara pada siapa-siapa kok,” kata Tante Yanti lagi.
“Kamu juga mau kan jaga rahasia pembicaraan kita?” kata Tante Yanti lagi.
“Iya, tante,” kata aku

“Kalau begitu jawablah pertanyaan tante tadi…” Tante Yanti sambil tersenyum.
“Ya, saya suka melihat perempuan yang wajahnya cantik, kulitnya putih tubuhnya bagus. Saya juga suka Tante Yanti karena Tante Yanti cantik dan tubuhnya bagus,” kata aku tanpa ragu.

“Maksudnya tubuh bagus apa,” Tanya Tante Yanti lagi. Aku agak ragu untuk menjawabnya.
“Ayolah…” kata Tante Yanti sambil memegang tangan dan mengelus-ngelus tangan ku. Tangan ku bergetar.. Tante Yanti tersenyum.

“Saya pernah....Pernah lihat Majalah Playboy, JuJuJu... Juga saya pernah lihat VCD porno.. tante
Saya lihat banyak perempuan tubuhnya bagus…” kata ku dengan nafas tersendat.

“Oh, ya? Di VCD itu kamu lihat apa saja,” kata Tante Yanti pura-pura tidak tahu, sambil terus menggenggam tangan ku yang terus gemetar.

“Mm.. Lihat orang sedang begituan…” kata aku.
“Begituan apa?” Tante Yanti tanya  lagi.

“Ya, lihat orang sedang bersetubuh…” kata aku
Tante Yanti  kembali tersenyum, tapi dengan nafas yang agak memburu menahan sesuatu di dadanya.
“Kamu suka tidak film begitu?” tanya Tante Yanti
“Iya suka, tante?” kata aku sambil menunduk.
“Mau coba seperti di film, tidak?” kata Tante Yanti
Aku diam sambil tetap menunduk. Tangannya makin gemetar. Tante Yanti menempelkan telapak tanganku di selangkangannya ...lalu mendekatkan tubuhnya ke tubuh ku.

Wajahnya yang cantik di dekatkan ke wajah ku
“Kamu Mau mencobanya tidak, mungpung sumi tante lagi ke luar kota ..?” tanya Tante Yanti setengah berbisik.

Aku tanya " suami Tante Yanti ......ke mana
"lagi ada urusan keluar kota 4 hari ...wan" kata Tante Yanti
Aku tetap diam dan gemetar detak jantungku semakin laju.
Wajah ku agak tertunduk malu malu tapi mau.

Tante Yanti terus membelai pipi anak tanggung sepertiku
Lalu Tante Yanti mencium bibirku.... mencium  pipi ku,,,,,,dan tangannya meraba raba batang kontolku yang mulai mengeras dan memanjang..... tegang..

Aku tetap diam dan makin gemetar. Tante Yanti terus menciumi wajah ku lalu akhirnya.... tanganya Tante Yanti mulai membuka kancing celana jeans ku.....dan mengeluarkan batang kontolku yang mengeras......

Lalu batang kontolku di lumatnya dengan sangat senang dan bercampur tegang aku juga mulai memberanikan diri untuk meraba raba nenennya Tante Yanti yang lumayan kecil itu.......Lama-lama aku pun mulai terangsang.

Tante yanti terus melumati kepala batang kontolku.....yang masih perjaka......lalu aku di baringkan depan......permadani ruangan TV

Lalu tangan Tante Yanti mulai membuka kancing bajuku.....dan melumati bibirku
Dengan pasti aku  membalas ciuman Tante Yanti
“Masukkan tangan kamu ke sini…” kata Tante Yanti dengan nafas memburu sambil memegang tangan ku dan mengarahkannya ke dalam buah dada Tante Yanti

“Masukkan tangan kamu ke dalam BH saya,.....Pegang buah dada tante,” kata Tante Yanti sambil tangannya meremas kontol ku yang mengaras,

Sementara tangan aku sudah masuk ke dalam BHnya dan mulai meremas-remas buah dada Tante Yanti
“Mmhh.. Terus sayang…enak banget itu” kata Tante Yanti
“Tangan saya pegal, tante…” kata ku yang masih polos dalam bercinta
.
“Uhh.. Kita pindah ke kamar depan yuk…” ajak Tante Yanti sambil menarik tangan aku. Sesampainya di dalam kamar..

“Kamu Buka pakaian Tante ..., Wan…” ujar Tante Yanti 
Aku pun memberanikan diri melepas seluruh pakaiannya Tante Yanti
“Iya, tante…” kata aku
Tante Yanti  setelah aku lepas seluruh pakaiannya, segera naik dan telentang di tempat tidur.
Aku terkesima melihat tubuh telanjang Tante Yanti yang mulus itu.....

Seumur-umur aku, baru kali ini dia melihat tubuh telanjang wanita cantik di depan mata. Apalagi wanita tersebut adalah wanita yang sering di bayangkannya bila Aku Onani. Kontol aku langsung tegang dan tegak..

“Naik sini, Wan…” kata Tante Yanti
“Iya, tante…” kata aku

“Sini naik ke atas tubuh tante” kata Tante Yanti sambil mengangkangkan pahanya yang putih mulus. Aku segera menaiki tubuh indah Tante Yanti  yang dalam keadaan telanjang  .

Tante Yanti langsung melumat bibirku dan aku langsung membalasnyanya dengan sebuah lumatan bibir dengan hebat.

Sementara satu tangan aku meremas buah dada Tante Yanti yang tidak terlalu besar dan kontol ku sesekali mengenai belahan pepek Tante Yanti..."

.“Ohh.. Mmhh.. Terus remas.. Terus…” Tante Yanti medesah menikmati...lumatan bibirku sambil memegang tangan aku yang sedang meremas buah dadanya, dan tangan kami bersamaan meremas buah dadanya.

“Ohh.. Sshh…enak banget wan....” kata Tante Yanti
Aku dengan bernafsu terus meremas dan menciumi serta menjilati buah dada Tante Yanti .

“Wan, jilati Pepek tante... ya, sayang…” pinta Tante Yanti
“Tapi saya tidak tahu caranya, tante,” kata aku yang masih polos.
“Sekarang dekatkan wajah kamu ke pepek tante, lalu kamu jilati belahannya…” kata Tante Yanti setengah memaksa dengan menekan kepala ku ke arah Pepeknya yang di penuhi bulu halus

Aku langsung menuruti permintaan Tante Yanti, Aku jilati belahan pepek Tante Yanti sampai tubuh Tante Yanti mengejang dan mengengah...engah menahan nikmatnya jilatan lidahku yang mengenai belahan pepeknya.
“Ooohh..Ooohh.. Terus jilat pepeknya, sayang…” Enak Banget....Ooohh..Ooohh.. Ooohh..Ooohh.. !!!
"Tante Yanti mendesah sambil meremas rambut kepalku.....“Wan, kamu jilati bagian atas sini…” kata Tante Yanti sambil jarinya mengelus kelentitnya
.
Lalu lidah aku menjilati habis kelentit Tante Yanti ..

Tante Yanti  kembali menggelepar merasakan nikmat yang teramat sangat.
“Teruss.. Terssshh.....Ooohh.....Ooohh.…Ooohh.…”Desahan Tante Yanti semakin membuatku bersemangat
Aku perhatikan seluruh badannya tante yanti semakin mengejang. dan Pahanya rapat menjepit kepala ku.

Sementara tangannya semakin menekan kepala ku ke pepeknya. Tak lama..
“Ooohh.....Ooohh.…Ooohh.…” Desah Tante Yanti  semakin panjang. Tante Yanti menikmati orgasme.
“Sudah, Wan.. Naik sini,” kata Tante Yanti
Aku lalu menaiki tubuh Tante Yanti yang mulus itu,
Lalu Tante Yanti mengelap mulut ku yang basah oleh cairan pepeknya.

Tante Yanti tersenyum, lalu mengecup bibir aku
“Mau tidak kontol kamu Tante  hisap lagi,” kata Tante Yanti.....
“Mau tante,” kata ku dengan penuh semangat.
“Sinilah.. Sinikan kontol kamu,” kata Tante Yanti sambil tangannya meraih kontol ku yang tegang , mengeras...Aku lalu mengangkangi wajah Tante Yanti
" Tante Yanti segera mengulum kontol ku lagi.....Tidak hanya itu, kontol lalu dijilat, dihisap, lalu dikocoknya

Tubuh ku mengejang menahan rasa nikmat yang teramat sangat.

Tangannya berpegangan pada pinggiran ranjang.
“Ohh.. Tantee.. Enaakk…” jerit kecil aku sambil memompa kontolnya di mulut Tante Yanti
“Udh wan"......Sekarang Masukkin kontulmu ...ke Pepek tante, sayang…” kata Tante Yanti,

Setelah Tante Yanti beberapa lama menghisap kontol ku.....Aku lalu mengangkangi Tante Yanti .
Sementara tangan Tante Yanti memegang dan mengarahkannya kontol aku ke lubang Pepeknya yang di penuhi bulu yang sangat lebat.

"Ayo masukan....Kontolmu ....wan...
“Ayo tekan yang keras, sayang…”
"Terus sayang....sambil mencambang rambutku " Tante Yanti Mendesah.....Sst...Oh.....Ooooh......"
"Terus Takan Terus....masukan kontolmu Wan ....." Tante Yanti sangat menikmatinya...!!!

Aku menekan terus dan berulang-ulang kali batang  kontolku ke lubang pepek Tante Yanti yang di penuhi bulu yang sangat lebat ,sampai akhirnya..

"Bless.. Bless.. Bless.. Kontolku  berhasil masuk dan mulai memompa kontolku kelobang  Pepek Tante Yanti

Dan aku mulai merasakan suatu kenikmatan yang tiada tara pada batang kontolku yang belum pernah aku  rasakan sebelumnya.
“Bagaimana rasanya,.....? ”Tanya  kata Tante Yanti sambil tersenyum manis dan jawab Aku sangat menikmatinya....

“Ohh.. Sangat enakk, tanttee…” kataku tersendat sambil memompa kontolku keluar masuk lobang pepeknya, Tante Yanti tersenyum. Setelah beberapa lama memompa kontolku, tiba-tiba tubuh aku mengejang. Gerakannya makin cepat dan aku sangat menikmati kenikmatan pepek istrinya tetanggaku yang cantik itu.



Tante Yanti karena sudah mengerti langsung meremas pantat ku dan menekankannya ke pepeknya.
Tak lama.. Crott.. Croott.. Croott.. Croott..Oooooh....Ooooh.....Oooooh Kontolku Menyemburkan cairan kenikmatan

Keluarin di dalam ....wan" Itu....Enaaaak  bgt sayang....." kata Tante Yanti
“Ooohh.. Ooohh…” Aku mendesah. .........
"Tubuh ku lemas dan lunglai di atas tubuh Tante Yanti
“Udah keluar......wan? Bagaimana rasanya?” Tanya tante Tante Yanti sambil memeluk dan membelai rambutku. “Sangat enak, tante…” kata aku

"Tante yanti terus mencium bibirku....dan berkata .."Nanti malam kamu nginep di rumah rante...wan...Temenin Tante lagi......."

Mungpung suami tante enggak ada di rumah.... "kata Tante Yanti
Aku menjawab ,,,,,baiklah tante.....nanti malam aku tidur di rumah tante dan kami bercinta terjadi sampe beberapa kali

"Tolong kamu jaga baik baik rahasiah ini ...wan." Kata tante yanti
"Dan aku jawab .....baiklah tante......" Bibirku  ku di cium Tante Yanti

Dan Ketika suaminya ke kantor pun Aku sering di ajak bercinta dengan Tante Yanti yang cantik itu sampai berulang-ulang kali.



Cerita Ngentot Istri Tetangga yang Hamil

Aku seorang yang hypersex, setiap sehari sekali wajib melakukan hubungan seks, kalau istri sedang tidak berada di rumah, aku pusing sekali, namun kemarin aku gak dapat jatah dari istri sebab dia lagi pergi.

Akhirnya timbul niat untuk mencari mangsa lain coz konti gw merasa cenat cenut kalau ga di turutin.
Aku membuka selimut, maka saya mendekatinya dengan wajah saya, perlahan-lahan aku mencium dia sangat membangkitkan gairah.

Aku benar-benar menyukai semua aroma tubuhnya saat tidur, karena aromanya natural bukan buatan, itulah salah satu alasan saya sangat mencintainya, tidak ada nilai-nilai yang minuspun tersedia baginya, wajah, tubuh, aroma, hati, sifat, semuanya PERFECT, maka ia rahmat yang paling indah yang saya miliki, tidak ada orang lain yang dapat menggantikannya, mungkin saya lebih cinta dari cinta sendiri, saya lebih rela kehilangan semua harta dari kerugian, dan karena itu banyak sifat-sifat masa lalu jelek, saya buang.

Di masa lalu saya sering saling wanita, sering melakukan pesta seks dengan teman-teman, sering pemesanan model, beberapa artis, Perex luar (Cina / Taiwan / dll), mahasiswa, dll Tapi semua yang saya meninggalkan dia, banyak dari teman-teman yang kiri / tidak pernah menghubungi saya lagi, tapi saya tidak peduli, saya pikir, saya tidak hidup dari mereka, bahkan mereka yang banyak “mengambil” uang dari saya untuk “sewa” wanita tsb,. Aku mungkin telah menghabiskan puluhan miliar itu semua.

Memang, aku masih suka curang, tapi kemudian saya lakukan jika dia tidak hadir atau pergi ke luar negeri sendiri, seperti minggu lalu. Saya kemudian melakukannya tidak ingin membiarkan dia tahu, jadi saya tidak pernah memberikan no telepon / ponsel, jika saya butuhkan, saya yang menyebut. Dan ada salah satu karyawan saya (pembantu, penjaga keamanan, pengawal) yang berani mengungkapkan bahwa, jika ada yang berani, saya jamin orang itu akan segera bertemu dengan “penulis”.

Karena cinta, jika istri saya ingin belanja dan aku sibuk, jadi saya mengirim tiga pengawal untuk menemaninya.

Saya sudah menyarankan semua pengawal, tidak ada yang harus mengganggu istri saya, jika mendapat sepotong rambut rontok yang disebabkan oleh seseorang, maka orang tersebut harus menerima “hadiah” yang berharga.

Setelah ada kejadian yang diterbitkan di hampir semua surat kabar Jakarta, itu terjadi di depan Keris Gallery Menteng, istri saya diserang, dan orang-orang tanpa ampun mereka akan diberikan hadiah di dahinya dalam bentuk “timah”.

Mereka melakukan itu semua karena perintah dari saya, karena saya pernah berkata: “Jika sampah di rumah tidak segera dibuang, halaman rumah akan terkandung kuman dan bakteri yang membuat penghuninya tidak sehat, negarapun seharusnya, jika ada” sampah masyarakat “harus segera dimusnahkan bahwa negara ini sehat”.

Dan motto itu selalu lari saya, dan saya perintahkan ke semua pengawal untuk menjalankan, tidak ada satu orang yang pernah memegang / merampok keluarga saya ke dalam sel, tetapi selalu masuk ke tanah.

Untuk apa orang seperti itu masuk ke sel, mengganggu masyarakat akan keluar lagi, jika ia pergi ke tanah, orang akan pergi diam-diam.

Setelah puas mencium dia, aku perlahan membuka pakaian, ia selalu tidak pernah memakai pakaian. Aku membuka pahanya Perlan perlahan dan memperhatikan vaginanya, sangat indah, merah muda.

Kenaikan gairah lagi, segera saya perlahan-lahan mencium mulutku dengan cepat terjebak kemaluannya ketat pada kedua bibir dan lidah menyapu dan menjilat gundukan kecil daging di bagian atas lubang kemaluannya.

Segera merasa tubuhnya bergetar hebat dan kedua tangan mencengkeram saya, ternyata istri saya terbangun dari tidur.



Dia ditekan dengan pahanya dikencangkan tegas.
Sigh keluar dari mulutnya “Oohh .., oohh .., oohh ..!”

Saya mengubah posisi 69, batang kemaluanku dipegang olehnya, dan kemudian saya merasakan ujung lidahnya mulai bermain-main di sekitar kepala penisku, perasaan menyenangkan tiba-tiba memancar dari bawah terus naik ke seluruh tubuh saya, sehingga untuk tidak merasa keluar erangan kenikmatan dari mulutku. Kami terus bermesraan, setiap hisap-menghisap, menjilat-jilat seakan berlomba-lomba ingin memberikan kepuasan satu sama lain.

Setelah 8 menitan bertempur, istriku mulai mengejang dan berteriak.
“Aahh .. aahh ..” jeritan disertai dengan merapatnya paha, dan pantat buah menggaruk-kaki.

Satu setengah menit dia menjepit kepalaku, sampai akhirnya dia terpuruk, sementara aku terus dengan aksiku menjilati setiap tetes air yang mengalir dari kedalaman vaginanya.
“Cukup .. Sayang .. auuow ..” keluhnya.

Dia menjatuhkan diri telentang dan membiarkan pergi dengan menghela napas, matanya menatap langit-langit.

“Ini bukan yach, karena meninggalkan satu minggu”, katanya.
“Ya nich, satu minggu saya hanya bisa gigit jari, sekarang lu harus membayar semua” jawab saya.
“He he he ..” istriku tersenyum manis.


Beberapa saat kemudian saya menyuruhnya untuk menungging. Dalam keadaan menungging sehingga ia terlihat lebih fantastis!

Potongan pantat putih dan halus itulah yang membuat saya tidak tahan. Aku memegang penisku dan langsung kuarahkan ke dalam vagina, maka segera kukayuh perlahan, setelah sekian lama



Aku meraih tubuh terlihat telah melonggarkan.
Aku memeluk dari belakang, saya meletakkan tangan saya di bawah payudaranya, dengan payudara kuurut agak kasar dari bawah ke atas dan meremas keras.

“Eengghh .. oohh .. ohh .. aahh”, tidak lama setelah itu bendunganku rusak, kutusuk keras, dan sperma saya di penyemprotan lima kali.

Setelah istirahat sejenak, kami kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kemudian kembali ke tempat tidur.

Saat tidur kita berbicara dan bercanda, sampai aku berbalik. Lalu saat aku menariknya ke belakang untuk saya, jadi sekarang dia sedang tidur telungkup di atas saya.

Tubuhnya perlahan mendorongnya sedikit ke bawah dan kakinya kupentangkan.
Kedua lutut saya dan pantat sedikit aku dibangkitkan, sehingga penisku panjang dan masih sangat tegang itu langsung terjepit di antara dua bibir kemaluannya.

Dengan tekanan dengan tangan pada pantat dan menyentak sampai pantat saya, maka penisku segera menerobos masuk ke dalam lubang kemaluannya.

Lenyap semua batangku.
“Aahh ..!” Audible mendesah kenikmatan keluar dari mulutnya.
Aku segera menggoyang pinggulku dengan cepat karena sepertinya ia akan klimaks.

Saya menambahkan semangat juga diimbangi dengan gemetar pantatnya dan menggeliat di atas saya.

Saya melihat wajahnya yang cantik, matanya setengah tertutup dan rambut panjang terurai, menjadi kedua payudara seksi yang bergoyang di atas saya.

Ketika saya melihat cermin besar di lemari, tampak pinggul berayun ke arahku. Kontol saya secara singkat melihat hilang sebentar ketika dia bergerak naik dan turun di atasku hal ini membuat saya lebih terangsang.

Tiba-tiba sesuatu yang mendesak dari ayam mencari jalan keluar, menciptakan perasaan yang menyenangkan di seluruh tubuh saya. Kemudian air dapat ditahan tanpa penyemprotan cum keras ke dalam lubang vaginanya, yang pada saat yang sama juga berdenyut dengan kekerasan dengan yang berada di atasku bergetar dengan hebat dan terpental.

Tangannya mencengkeram tubuh saya sulit. Pada saat yang sama kami berdua mengalami orgasme dengan mengerikan. Akhirnya ia merosot di tubuhku dengan lemas terlihat dari mulutnya saat ia tersenyum puas.

“Terima kasih yach, lu sudah menyediakan sarapan nikmat ..!” Dia berkata
Saya menjawab dengan memberikan ciuman di dahi.
“Sayang .. saya ingin mengatakan sesuatu” lanjutnya.
“Sayang Apa?” Saya membalas
“Anda harus janji 1”
“Berjanjilah untuk apa?”
“Janji tidak marah dengan saya”
“Tidak aku bisa gila untuk madu,” kataku, mencium keningnya lagi.
“OK .. aku hamil” katanya pelan.
“APA .. Apakah Anda serius?”
“Ya sayang”

Mungkin karena terlalu senang, seperti kesurupan, saya langsung memeluknya erat dan mencium berulang kali.

Kami berpelukan dan berciuman dengan tangan kita satu sama lain, membelai dan memijat satu sama lain, jadi kami terbangkit nafsu makan dengan cepat kembali. Lidah kita memutar dan menghisap satu sama lain, terasa begitu baik.

Aku keluar-mendorong puting sambil terus berciuman. Sekarang mulutku pindah ke hirarki leher, leher dan tangan kujilat semakin sengit di dadanya.

Istri saya berbalik dan berada di atas saya, dan kemudian ia mengambil posisi 69, dengan tanpa pamrih hal dijilatinya dari testis ke kepala, kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya. Aku segera menjilat klitorisnya sudah basah dan dibalasnya dengan kelezatan jerami-jerami, ia membiarkan batang kemaluanku di dalam mulutnya dan bermain-main dengan lidahnya sambil mengisap, sementara aku dengan lembut menggigit bibir kemaluannya.

Setelah 10 menit, karena saya tidak ingin orgasme cepat aku menyuruhnya berhenti. Kali ini dia tidur telentang, dan menempatkan saya di atas batang kemaluannya ke dalam liang perempuan. Aku mulai memompa. Aku pindah pantatku naik turun dan ia mulai mengikuti gerakan tubuh saya. Dia mulai mengerang suara sementara jari mengigiti, menggeleng, dan kaki yang melilit pinggang saya, kadang-kadang ia juga mencium bibirku.
“Ohh .. mooree ..!”


Gerakan semakin kupercepat, kita mendapatkan liar di tempat tidur, jika tidur murah mungkin runtuh karena guncangan yang kuat ini. 30 menit kami berada di posisi ini, tubuh kita bermandikan keringat. Akhirnya merasa dia mulai mengejang, kakinya semakin pinggang penjepit kuat, tangannya erat memeluk kukunya merasa bahkan mulai menggaruk punggungku, tapi aku diabaikan.

Akhirnya saya merasa cairan hangat membasahi batang kemaluanku disertai dengan panjang lolongan. Tapi aku masih tidak orgasme, aku terus meningkat ini untuk 5 menit kemudian giliran maniku cerat dalam liang perempuan. Tubuhku mulai lemas, kami mencium satu sama lain sementara bergulir sekitar sampai akhirnya berbaring dengan nafas terengah-engah.

“Saya sangat senang kau hamil!” Aku tergagap sebagai napas masih tidak bisa teratur.
“Aku mencintaimu” katanya, menyeka keringat di dahi saya.

Tiba-tiba ia mencium turun ke leher, dada, perut, akhirnya batang pangkal paha. Dikulumnya batang kemaluanku masih dioleskan dengan sperma dan liang perempuan cair rakus. Stem pangkal paha yang mulai kembali lamban dalam mulutnya diperketat. Saya mengubah posisi saya bersandar di tepi tempat tidur sehingga saya bisa memijat payudara berukuran sexsy.

Setelah membersihkan batang kemaluanku, dia duduk di pangkuanku dengan posisi berlutut. Kuelus sementara ia membelai pantatnya perlahan menurunkan tubuhnya sampai batang kemaluanku tertanam di senggamanya kebiasaan. Tanpa kuperintah, ia segera bergerak tubuhnya naik turun seperti naik kuda. Payudaranya yang tepat di depan wajahku datang bergoyang-goyang atas dan ke bawah irama gerakannya. Saya merokok payudara kirinya sementara kanan pijat lembut memijat sesekali aku berbalik dan menarik puting merah muda sudah keras.

Sebelum klimaks kedua kalinya aku mengatakan kepadanya untuk mengubah posisi. Kali ini ia menungging di depan saya, di belakang ternyata sekarang ingin bermain. Aku meletakkan batang kemaluanku dan tangan meremas-remas payudaranya menggantung itu. Genjotanku membuatnya mengerang sambil terus mendorong nikmat tubuhnya mengimbangi gerakan. Butir-butir keringat jatuh di tempat tidur.
Setelah 15 menit bermain doggy style, kami orgasme bersama-sama, 2X penyemprotan sperma ke dalam rahimnya.

Setelah kami istirahat satu jam, kami pergi ke restoran untuk merayakan kehamilan pertama ini. Ternyata istri saya di luar negeri tidak hanya untuk mengunjungi kakaknya, tetapi juga untuk memeriksa kehamilan.


Sumber : http://www.ceritaentot.com

Kenangan bercinta di mobil Dengan Mbak yanti


Ngeseks tak mengenal tempat, mungkin itulah yang pantas di gambarkan pada cerita seks berikut ini, dimana seorang pria yang dalam perjalanan driver  mobil travel beruntung karena bareng bersama seorang wanita cantik dalam mobil tersebut dan terjadi hubungan seks diantara mereka di dalam mobil dan berlanjut sampai sekarang, berikut cerita selengkapnya.

Kebetulan waktu itu masih bisa mendapat tempat duduk di depan , aku dijemput pertama sebab mobil masih kosong, Kira-kira sekitar jam 10.00 siang.

Seorang yang baru ku kenal kira-kira akhir tahun 2016 dia salah satu pelanggan Travel yang ada di kota ini. Perawakan wajah cantik, sederhana, dengan body yang lumayan aduhai. Tinggi 153 cm dengan berat 47 kg. Kulit putih, layaknya orang kebanyakan. Potongan rambut sebahu, sangat serasi dengan wajah dan postur tubuhnya yang langsing, umurnya kira-kira 35-37 tahun, seorang  ibu rumah tangga,di daerah kubu raya.

Dari perkenalan yang tak sengaja itu, akhirnya kami bergegas untuk menikmati perjalanan pulang dengan menyempatkan waktu sejenak untuk bercinta di dalam mobil yang aku kendarai, kemudian berbuntut dengan janji untuk bertemu lagi setelah dia memberikan nomor telepon selulernya untuk kemudian kami pun berpisah.

Kenangan bercinta di mobil Dengan Mbak yanti Bermula dari singkawan hingga akhirnya telepon-teleponan ,bbm, wa, tentu saja saat jam kantor suaminya.

Akhirnya suatu hari, kira-kira 1 hari setelah pertemuan itu.kebetulan Mba yanti salah satu pelanggan Travelku tepatnya hari Senin, setahuku, hari senin jam kantor pegawai seharian penuh sampai jam 16:00 sore. Dari sebuah janji pertemuan  yang terletak tidak jauh dari rumah tempat tinggalku. Dan sesuai janji, jam 07:45, Aku mulai memberanikan diri mendatangi rumahnya, Sesampainya aku di rumah Mba Yanti aku di sambut dengan senyuman manis Mba yanti.

Ternyata Mba yanti sudah menungguku di depan pintu rumahnya dengan senyuman yang sangat menggairahkan, Mba yanti Seorang wanita berwajah cantik dan manis, kulit putih, aku tak pernah menanyakan asal usulnya sebelumnya. Hanya sempat menanyakan namanya, Dia menjawab nama saya Yanti yang dari pengamatanku selama pertemuan itu, Menurut perkiraanku, Mba Yanti ternyata beneran tinggal  di sebuah perumahan villa permata di daerah perbatasan antara kota pontianak dengan kubu raya.

Setelah aku tiba di rumahnya "Aku bertanya kenapa tidak ada orang di rumah"  Dia malah tertawa kecil sambil menjawab bahwa suaminya sedang ada tugas ke luar daerah selama 10 Hari dan anaknya belum pulang dari jam sekolah.

Tidak lama kemudian Mba yanti sudah berdiri di sampingku. Sesaat kulirik, Mba yanti menggunakan sebuah daster berkain tipis, umumnya wanita, menggunakan daster saat sudah berada di rumah.

Hanya saja yang ada lain dari penglihatan ku saat itu, Mba Yanti sepertinya tidak menggunakan bra dan celana dalam. Meski tak tampak begitu jelas tonjolan putingnya dan bibir bawahnya karena dasternya berwarna gelap, biru tua.

Yang lebih membuat aku tak bisa berkonsentrasi lagi adalah ternyata daster tersebut pendek. Hanya setelah paha. Dapat dibayangkan, postur tinggi 153 cm dengan daster pendek setengah paha dan porsi tubuh yang kecil dan buah dada kecil padat, tentu saja hal ini membuat debaran yang lain.

Berdesir, rasanya. Aku terkesima saat itu. Mba Yanti ternyata memperhatikan tingkahku yang mulai agak gelisah. Dia mendehem dan kemudian tersenyum saja untuk akhirnya dia duduk di sebelshku dan memegang tanganku.......Alamak, itu paha makin terlihat jelas.

Aku semakin salah tingkah. Setelah itu Mba yanti mulai Mencium-cium bibirku dan mulai tanganku meremas remas payudaranya yang kecil,


Upss…! Ada apa ini, tanyaku dalam hati sejenak hingga sesaat kemudian aku sudah sadar maksud semua ini. Baiklah sambutku lagi dalam hati, aku akan ladeni lagi permainan bercinta ini , lalu aku perhatikan kontolku dengan Sengaja, kontolku aku buka begitu bisikku dalam hati. Tangan Mba yanti mulai memegang kontolku lalu kontolku di emut-emutnya....Oh....yess!!! Semakin mengeras kontolku dan semakin menggairahkan suasana waktu, tidak lama kemudian aku di ajak masuk ke kamar depan dengan ruangan yang cukup besar.

Sementara Mba yanti saat itu berbaring di tempat tidur dalam posisi yang sangat menantang, kaki di kangkang dengan tangan kirinya sudah mengusap-usap selangkangannya.

Dalam hati aku berkata, berani sekali perempuan ini aku menyukainya. Dan kenapa pula dia tidak malu padaku., dia tersenyum dan kemudian melirik ke arah selangkanganku.

Hal itu membuatku salah tingkah, tapi kemudian aku acuhkan. Biar saja, Mba yanti saat ini lagi terangsang, pikirku dengan tonjolan di celanaku. itu sedang hot-hotnya, karena terdengar erangan-erangan yang makin membuatku terangsang. kemudian, Mba Yanti mulai membuka semua pakaiannya, telanjang bulat. Dan… wow… rambut yang lebat di selangkangannya, sangat menantang hasratku sebagai laki-laki.

Tapi sekali lagi, hasrat itu aku harus terbendung dengan ketidakberanianku. Saat kumenoleh ke arah Pepeknya Mba yanti !!!

Hah… rasanya nafasku kian memburu.
Lalu aku buka  kancing baju dan celana sudah terlepas dan batang kontolku memanjang dan  mengeras dan pada saat itu, Mba yanti dengan ganas dan bertubi-tubi menciumi bibir dan dadaku.

Syaraf normalku rasanya tidak berkerja, entahlah, tanganku yang berada dalam bimbingan tangan Mba yanti mengarahkan dan menuntunnya mengusap-usap selangkangannya. Licin. Masih saja aku dalam ketidakberdayaan gerak yang memakuku dalam nuansa birahi. Kesadaranku bangkit pada saat di mana aku bukan menjadi diriku lagi, seperti sebuah perintah yang menggelegar, saat syarafku menggerakkan birahiku.
Aku pun mulai bereaksi, Tangan yang tadinya dituntun Mba yanti untuk mengelus-elus pepek

diselangkangannya, kini dengan lincah dan lihai mempermainkan daerah terlarangnya yang di kelilingi rambut yang hitam. Aku emut lobang pepeknya.....dengan tenang, Aku lihat Mba yanti begitu menikmatinya

Kami telah sepakat sebelum pertemuan itu, posisi kami berganti. Kini Mba Yanti yang mengulum kemaluanku, ......Batangan kontolku yang dalam kuluman Mulut sexy Mba Yanti menghentak-hentak menikmati lincahnya lidah Mba Yanti yang mengisap dan menelusuri seluruh permukaan kepala kontolku. dan Mba Yanti yang memintaku mengelus-elus selangkangannya. Bukan itu saja, bahkan  Mba yanti menuntun jari tengah tangan kiriku untuk memasukkannya ke dalam lubang Pepeknya. Wow… basah dan licin yang membuat tidak ada halangan apa-apa hingga jari tengah kiriku kugerakkan keluar dan masuk di lubang kemaluan Mba yanti.

Mba yanti yang bagai kesetanan terus menggerakkan kepalanya, maju dan mundur, hingga kenikmatan hisapan sungguh kian terasa. Aku bukan pemain seks yang hebat, juga bukan menjajal kemaluan wanita yang hebat, aku hanya laki-laki kebanyakan. Selama ini kehidupan seksualku biasa saja, boleh dibilang, tanpa pengalaman. Ini yang pertama dan mungkin yang paling liar dalam adegan seksual yang sangat luar biasa.

Mba yanti. yang terbaring di ranjang dengan sprei warna kebiru-biruan dengan posisi kaki di tekuk dan di kangkang melebar. Hingga liang kemaluannya menganga dan siap menerima masuknya batangan kontolku.
Lalu....kubiarkan sejenak merasakan hangatnya kemaluan Mba yanti. untuk kemudian mulai aku dorong....aku....tarik...gerakkan perlahan, batanganku tenggelam dan tenggelam dalam liang kemaluan Mba yanti. . Ahh… inikah aroma kemaluan wanita itu yang selama ini hanya kuketahui dari cerita teman-temanku?

Setelah aku genjot perlahan......Mba yanti. menggeliat-geliat dengan menikmati genjotanku dan terengah-engah merasakan genjotanku, lalu tanganku mulai mengelus-elus putingnya yang kecil, lalu aku cumbui bibirnya Mba yanti

Pada saat aku hendak mencapai puncak kenikmatan genjotanku tiba-tiba Mba yanti. yang di suasana tengah mengerang-erang tiba-tiba diam dan menginginkan adegan demi adegan lainya

Hmm… dengan sedikit isyarat, Mba yanti membaringkan tubuhnya minta aku untuk menjilati bibir dan putingnya , Mba yanti menggeliat menikmati jilatanku pada bibir kemaluannya. Kaki Mba yanti terbuka lebar, dan merekahlah liang kenikmatan itu. Sesaat setelah itu,  Mba yanti pun tengah merasakan asyiknya jilatan-jilatanku pada kemaluannya. Tangan  Mba yanti tanpa kendali meremas buah dadanya sendiri. lalu Mba yanti membentangkan tangannya ke atas kepalanya. Nafasnya sekali-sekali terengah-engah.

Becek, kurasakan bibir kemaluan Mba yanti yang menggeliat-geliat. Sejurus setelah itu, batanganku kembali bangkit dari istirahatnya. Tegang. Kedua kaki Mba yanti kutarik ke tepian ranjang, dan langsung batanganku kumasukkan ke dalam lubang itu. Mata Mba yanti melirik ke  batang kontolku. Tersenyum. Aku tahu arti senyum itu, ingin. Tanpa banyak aktivitas lain,  Mba yanti hanya menggoyangkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri. Dan dalam posisi kuda-kuda dengan kaki kukangkang, batanganku tepat pada posisi yang sangat bagus untuk terus menggoyang dan menggoyang maju dan mundur. Tidak lama kemudian, terasa tubuh Mba yanti menegang, aku tahu itu, Mba yanti hendak mencapai puncaknya, hal ini membuatku terus mempercepat goyangan. Erangan Mba yanti kian menjadi. Ughh… Pada saat yang tepat, batanganku kutekan dalam-dalam.

Hal ini sambil mendaratkan ciumannya di bibirku. Agak lama dia melakukan itu, mungkin 10 detik, entahlah. Dan akhirnya meng engah....engah lalu terkulai lemas terbaring melentang di ranjang. 

Aku minta Mba yanti  mengambil posisi menungging. Kaki yang di kangkang, membuat lebar rekahnya lubang di selangkangannya. Basah. Tak ada aba-aba. Batanganku yang masih tegang, belum orgasme, segera kumasukkan ke liang kemaluan Mba yanti Batangan itu masih sangat basah oleh cairan kemaluan Mba yanti.

Tak perduli, siapa yang perduli, lalu batang kontol ku pun dengan leluasa memasuki lubang kenikmatan.  Mba yanti memang sangat menyukai posisi doggy ini, itu pengakuannya. Entahlah, ternyata memang dosa tak memperdulikan

Lalu goyanganku jadi tidak beraturan lagi Mba yanti pun juga sepertinya mau orgasme karena goyangan pinggulnya juga tidak terkendali lagi. “ARRRRRGGGGHHHHHHH” teriak kami bersamaan pada saat kami ejakulasi bersamaan
“ahhh…ahhh adduhh Mba yanti ennak banged pepek  Mba yanti huuh,huuh..” aku memujinya saat nafas ku belum teratur benar.
“kontolmu juga enakkkkkk banget......nanti malam datang ke sini kita bercinta lagi